Call Center Garuda Indonesia 24 Jam



Garuda Indonesia merupakan satu dari segelintir maskapai penerbangan yang mampu bertahan di Indonesia. Salah satu faktor yang memengaruhinya adalah call center Garuda Indonesia yang lebih responsif dibandingkan kompetitornya. Hal itu membuat konsumen merasa lebih dihargai dan aman dalam memilih maskapai penerbangan. Namun, seperti apakah kisah di balik berdirinya Garuda Indonesia?

Garuda Indonesia


Pada salah satu poin perjanjian dari Konferensi Meja Bundar (KMB), ditegaskan bahwa KLM Interinsulair Bedrijf akan diserahkan kepada pemerintah Indonesia yang sah. Adalah Dr. Konijnenburg, delegasi KLM sekaligus karib Presiden Soekarno, yang melakukan proses serah terima sekaligus menanyakan nama pengganti untuk maskapai tersebut.

Presiden Soekarno kemudian memilih ‘Garuda Indonesia’, di mana Garuda merupakan kendaraan Dewa Wisnu dan Indonesia sebagai nama negara. Harapannya adalah maskapai itu dapat terbang berkeliling seluruh penjuru nusantara. Maskapai itu diresmikan pada 28 Desember 1949 sekaligus mengantarkan Presiden Soekarno dari Yogyakarta untuk pulang ke Jakarta.

Sepuluh tahun pertama operasionalnya, kepemilikan saham Garuda Indonesia sebesar 51% berada di tangan pemerintah Indonesia, namun 49% sisanya masih di tangan KLM. Namun, saat posisi Belanda semakin terdesak, sisa kepemilikan saham tersebut akhirnya sebagian diserahkan pada pemerintah dan separuhnya dilelang. Dengan demikian, pemerintah resmi menjadi pemegang saham mayoritas sekaligus utama.

Dengan porsi kepemilikan saham tersebut, otomatis Garuda Indonesia menjadi satu-satunya maskapai penerbangan yang berstatus sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Hal itu membuat perusahaan lebih mudah dalam mendapatkan pendanaan dari pemerintah serta melakukan monopoli sektor transportasi udara. Akibatnya, selama masa-masa dominasinya, sulit bagi maskapai lain untuk berkembang.

Selama tahun awal operasi, Garuda Indonesia fokus terlebih dahulu untuk stabilisasi penerbangan domestik. Baru kemudian pada 1955, maskapai itu berani mengambil rute internasional, dimulai dengan pelayanan penerbangan ibadah haji. Tahun-tahun selanjutnya, barulah dikembangkan rute lain, seperti Eropa dan Amerika. Berkat dominasinya, keuntungan yang diraup perusahaan pada era tersebut sangat tinggi.

Krisis, Masa Kelam, dan Kebangkitan Garuda Indonesia

Memasuki tahun 1990-an, maskapai mulai mengalami masalah, terutama tingginya keluhan yang diterima call center Garuda Indonesia. Banyak sekali penumpang yang mengeluhkan tentang keterlambatan penerbangan atau delay tanpa alasan jelas. Belakangan diketahui bahwa alasan dari delay tersebut dilatarbelakangi oknum-oknum pejabat pemerintahan yang memanfaatkan koneksi maskapai dengan pemerintah untuk kepentingan pribadi.

Praktek KKN itu akhirnya berujung pada laporan defisit neraca keuangan Garuda Indonesia pada 1994. Banyak konsumen setia yang memutuskan untuk mulai beralih ke maskapai lain yang berani menawarkan tarif lebih murah dengan pelayanan prima. Otomatis, pendapatan maskapai berkurang drastis. Namun, berkat kucuran modal dari pemerintah, operasional perusahaan terhindar dari masalah.

Sayangnya, talangan dana tersebut tidak dapat menolong dalam kurun waktu yang panjang. Tahun 1997, krisis moneter membuat pemerintah tidak mungkin memberi bantuan biaya operasional. Perlahan tapi pasti, Garuda Indonesia terpuruk hingga harus menjual sebagian pesawat.

Disusul kebijakan pemerintah pada 1999 yang melarang monopoli suatu korporasi pada sebuah bidang usaha.

Operasional dan manajemen Garuda Indonesia semakin tercekik. Pada masa itulah maskapai-maskapai komersil kecil mendapat celah dalam sektor transportasi udara. Mereka meraup keuntungan yang signifikan atas lemahnya sang raksasa penerbangan nasional tersebut. Kondisi yang mengkhawatirkan itu bertahan hingga medio 2007. Meskipun terseok-seok, pada akhirnya Garuda Indonesia dapat bangkit kembali.

Mendapatkan suntikan dana dari investor, revitalisasi pun dilakukan, terutama dari segi manajemen. Praktek KKN dibasmi secara tuntas. Hal itu memberikan perubahan signifikan di mana keuangan serta pelayanan maskapai terhadap konsumen menjadi jauh lebih baik. Kini, Garuda Indonesia tercatat memiliki 224 pesawat terbang yang dioperasikan bersama anak perusahaan, yaitu Citilink.

Kontroversi Tarif Tiket Pesawat

Pada 2018 lalu, telah ramai komplain tentang tingginya tarif tiket pesawat yang membuatnya tidak terjangkau banyak pihak. Terutama untuk Garuda Indonesia, di mana sebagai maskapai BUMN diharapkan memberi layanan terbaik dengan harga lebih terjangkau dibandingkan milik swasta. Tidak dapat dipungkiri memang bahwa Garuda Indonesia membanderol tarif penerbangan paling mahal.

Call Center Garuda Indonesia


Sedangkan untuk beragam keluhan terkait dengan satu-satunya Maskapai BUMN ini bisa dilakukan melalui call center Garuda Indonesia di nomor 0804-1-807-807 dan (021) 2351 9999.

Nah, itulah tadi informasi yang bisa kami bagikan kepada segenap pembaca terkait dengan nomor center Garuda Indonesia yang bisa dihubungi selama 24 Jam. Semoga melalui artikel ini bisa membantu segenap permasalahan yang pembaca alami. Trimakasih,

Belum ada Komentar untuk "Call Center Garuda Indonesia 24 Jam"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel